Arsitektur Hijau

Arsitektur hijau disebut juga arsitektur ekologis atau arsitektur ramah Jasa Arsitek Bangunan lingkungan, adalah satu pendekatan desain & pembangunan yang berdasarkan atas prinsip-prinsip ekologis & konservasi lingkungan, yang akan menghasilkan satu karya bangunan yang memiliki kualitas lingkungan & menciptakan kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan.

Arsitektur hijau diperlukan buat menjawab tantangan dilema lingkungan yang semakin memburuk & hal ini disebabkan karena pendekatan pembangunan yg terlalu berorientasi dalam aspek ekonomi jangka pendek semata.

Bangunan hijau merupakan satu pendekatan pembangunan bangunan yg didasarkanatas prinsip-prinsip ekologis. Pendekatan ini dipilih berdasarkan fenomena bahwa selama ini 50% sumberdaya alam dipakai buat bangunan & 40% tenaga dikonsumsi bangunan. Sementara itu lebih menurut 50% produksi limbah berasal dari sektor bangunan. Kenyataan ini menunjukkan adanya ketidak seimbangan lingkungan yang berakibat dalam menurunnya kualitas lingkungan dan kehidupan insan.

Ada dua tujuan Jasa Arsitek Bangunan medan primer penerapan bangunan hijau:Meminimalkan pemakaian energi dan sumberdaya, Jasa Arsitek Bangunan terutama yang dari dari      sumberdaya yang nir dapat diperbaharui, misalnya bahan tambangMeminimalkan emisi (buangan) yang dari menurut proses konstruksi, pemakaian & pembongkaran bangunan.

Ada beberapa prinsip yang wajibdipenuhi oleh sebuah bangunan agar dapat dianggap sebagai bangunan hijau, yaitu: Konservasi tenagaBangunan harus dibangun dengan tujuan meminimalkan kebutuhan bahan bakar buat pengoperasian bangunan tadi. Efisiensi energi dapat dilakukan mulai saat pembangunan/konstruksi bangunan, pemakaian atau pengoperasian bangunan, & waktu bangunan dirobohkan. Penyesuaian menggunakan iklimBangunan harus didesain sinkron menggunakan iklim dan sumber energi alam yg ada. Ikilim diIndonesia merupakan panas lembab, sebagai akibatnya bangunan harus didesain buat mengatasi udara panas, kelembaban & curah hujan tinggi. Meminimalkan pemakaian sumberdayaBangunan harus dibuat buat mengurangi pemakaian sumberdaya, terutama yg nir bisa diperbarui & diakhir pemakaian bangunan dapat membangun sumberdaya baru untuk arsitektur bangunan lain. Memperhatikan pemakaiBangunan hijau harus memberi perhatian dalam keterlibatan insan pada pembangunan dan pemakaian bangunan. Bangunan wajibmemberi kenyamanan, keamanan & kesehatan bagi penghuninya. Rancangan bangunan pula harus memperhatikan budaya dimana bangunan didirikan, dan perilaku pemakainya. Memperhatikan lahan (site)Bangunan harus “membumi”. Ada hubungan antara bangunan & lahan. Bangunan wajibdirancang dan dibangun sesuai dengan potensi lahan loka bangunan akan didirikan. HolistikBangunan hijau memerlukan pendekatan keseluruhan (menyeluruh) berdasarkan semua prinsip yg terdapat.

Gambar1. Bangunan tinggi dengan material baja dan kaca memerlukan energi sangat banyak

Gambar2. Bangunan tradisional lebih dekat dengan alam

Gambar3. Efisiensi sumberdaya menggunakan memanfaatkan bangunan-bangunan usang buat fungsi baru

Dalam merancang bangunan hijau, arsitek atau perencana bangunan harus memperhatikan siklus hayati (lifecycle)  yang dimiliki sang bangunan. Daur hayati bangunan berkaitan menggunakan efisiensi pemakaian sumberdaya & tenaga,  limbah & polusi yg didapatkan di setiap tahapnya, & kenyamanan penghuninya. Daur hayati bangunan hijau yg perlu diperhatikan yaitu:Tahap perencanaan & perancangan bangunan, mencakup: pemilihan site; pemakaian tenaga (termasuk bahan bangunan); rancangan bangunan; dan pemilihan konstruksiTahap pembangunan, mencakup: pemakaian energi; limbah dan polusi yg didapatkan keselamatan pekerjaTahap pemakaian, mencakup: kenyamanan pemakai; kesehatan pemakai; limbah & polusi yang dihasilkan, konservasi bangunanTahap pembongkaran, mencakup: pemanfaatan pulang bahan bangunan; limbah yang dihasilkan

Pada setiap termin menurut daur hidup bangunan tadi haruslah tetap memperhatikan prinsip-prinsip bangunan hijau.

Bangunan hijau memperhatikan falsafah penciptaan alam dan menghayati kiprah insan sebagai pengelola sekaligus perawat alam, yang justru tercermin menurut budaya tradisional pada mana di dalamnya terdapat pembelajaran mengenai kearifan terhadap kelestarian alam, membentuk aturan-aturan buat merawat alam pada bentuk adaptasi dan nilai religi.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *