Kritik Arsitektur

Jenis-Jenis Kritik Arsitektur merupakan1. Kritik Terukur2. Kritik Normatiftiga. Kritik Interprektif4. Kritik Tipikallima. Kritik Impresionis6. Kritik Deskriptif1. KRITIK TERUKURNorma pengukuran dipakai buat memberi arah yg lebih kuantitatif. Hal ini menjadi bentuk analogi berdasarkan ilmu pengetahuan alam.Pengolahan melalui statistik atau teknik lain akan membicarakan liputan baru mengenai objek yg terukur dan wawasan tertentu dalam studi.Bilangan atau standard pengukuran secara khusus memberi kebiasaan bagaimana bangunan diperkirakan pelaksanaannya.Standardisasi pengukuran dalam desain bangunan bisa berupa :Ukuran batas minimum atau maksimum, Ukuran batas rata-rata (avarage), Kondisi-kondisi yang dikehendaki Contoh : Bagaimana Pemerintah daerah melalui Peraturan Tata Bangunan menjelaskan beberapa sandard normatif : Batas maksimalketinggian bangunan, semJasa Arsitek Bangunan padan bangunan, Luas terbangun, ketinggian pagar yang diijinkaAdakalanya standard pada pengukuran tidak dipakai secara eksplisit sebagai metoda kritik karena masih belum cukup memenuhi kondisi kritik sebagai sebuah kebiasaan Contoh : Bagaimana Huxtable mengungkapkan tentang kesuksesan perkawinan antara seni di pada arsitektur menggunakan bisnis investasi konstruksi yg diukur melalui standardisasi harga-harga. Norma atau standard yg dipakai dalam Kritik pengukuran yg bergantung pada ukuran minimum/maksimum, syarat yg dikehendaki selalu merefleksikan aneka macam tujuan berdasarkan bangunan itu sendiri.Tujuan menurut bangunan umumnya diuraikan pada tiga ragam petunjuk menjadi beikut:Tujuan Teknis ( Technical Goals)Tujuan Fungsi ( Functional Goals) Tujuan Perilaku ( Behavioural Goals)

Salah satu contoh kritik arsitektur dengan memakai kritik terukur :

    Film An Inconvenient Truth ternyata memberi ilham dalam John Hardy, seseorang perancang perhiasan yang bertempat tinggal pada Bali. Dokumenter karya mantan wakil presiden Amerika Serikat, Al Gore, mengenai planet bumi, yang terancam kelangsungan hidupnya, itu membarui pola pikirnya. “while I was in jewellery business, I was building many things. Showrooms, stores, factory.” Ujarnya. Jasa Arsitek Bangunan Tetapi tidak sekalipun ia mencoba membentuk bangunan bangunan yg green.

    Hardy tersadar, ulah manusia yang rakus dalam mengeksploitasi alam tanpa mempedulikan dampaknya, menyebabkan terjadi perubahan iklim & pemanasan global pada bumi. Ia merasa bila apa yang dilakukannya selama ini bukan bagian dari kerja sama masa depan. Bila diteruskan, “I would be part of the persoalan” pungkasnya. Padahal, bukan itu yang diinginkan pada mengisi kehidupan. Ia pun banting stir, memutar haluan.

    Yang ada di kepalanya kemudian adalah sebuah bangunan hijau yang terbangun berdasarkan bahan-bahan yang terbarukan: Green School. Gagasannya mengenai sebuah sekolah yg mengusung kehidupan ala Jasa Arsitek Bangunan medan kampung di Indonesia, itu ternyata mendapat dukungan dari wargainternasional. Tercatat illusionis internasional David Copperfield & desainer global Donna Karan dari New York, berpartisipasi dalam program donasi sekolah buat 205 muridnya asal dari Indonesia dan bersekolah gratis. Akhirnya pada tahun 2008 berdirilah sekolah internasional Green School, di atas lahan hutan 8 hektar, pada tempat Sibang Kaja, Bali.

oject Name                      : Green School

Developer                        : PT. Bambu Bambu

Location                          : Banjar Piakan, Sibang Kaja, Abiansemal, Badung,Bali, Indonesia, 80352.

Architecture Consultant    : PT. Bambu Bambu

Principal Architect            : Aldo Landwehr

Interior Consultant            : PT. Bambu Bambu

Landscape Consultant      : PT. Bambu Bambu

Lighting Consultant          : PT. Bambu Bambu

Structural Consultant       : Civil Engineering Gadjah Mada University

ME Consultant                : PT. Bambu Bambu

Main Contractor       : PT. Bambu Bambu

Building Area      : ±4500 m2

Site Area              : ±4.55 HA

Design Phase      : June 2007-May 2008

Construction Phase         : July 2007-August 2008

Launching              : September 1st, 2008

    Memasuki kompleks sekolahan yang asri, hutan desa yang yang rimbun dengan pepohonan, menyambut. Namun buat hingga pada bangunan sekolah, semua murid harus melalui Jembatan Minang yg melintasi sungai Ayung. Dinamakan Jembatan Minang lantaran atap jembatan ini mengadaptasi atap rumah tata cara Minangkabau. Konstruksi jembatan ini seluruhnya terbuat dari bambu.

Jembatan Minang yg Menghubungkan Daerah Sekolah dan Area Masuk pada Atas sungai Ayung

    Daerah di sisi seberang Jembatan Minang, merupakan kawasan utama sekolah. Di situ terdapat sawah milik sekolah dimana siwsa & guru tak jarang menanam padi bersama. Tetapi area belajar yang sesungguhnya baru ditemui sesudah perjalanan melewati jalan setapak yang menanjak yaitu kelas-kelas tanpa dinding atau pun kaca, terlihat. Desain yang terbuka tadi menciptakan para murid yang sedang belajar mencicipi desiran angin serta mendengar bunyi-suara alam misalnya: kicauan burung,bunyi pepohonan yang bergesek, dan genre air di sungai.

    Sementara itu pada level tertinggi dari kawasan, terdapat sebuah lapangan besar , sarana olahraga out door sekolah & sebuah gymnasium. Terdapat pula sebuah bangunan dnegan 3 level: Heart of School (HOS). Ini merupakan bangunan primer sekolah yg berfungsi sebagai tempat administrasi, ruang pengajar, ruang ketua sekolah, dan ruang-ruang penunjang lain misalnya galeri seni kriya anak, ruang komputer dan lainnya.

    Di level bawah, kita bisa melihat pilar-pilar bambu, menopang lantai-lantai pada atasnya pada susunan yg unik. Jika selama ini batang-batang bambu lekat menggunakan bangunan kotak dan sederhana, tidak demikian menggunakan bangunan Green School. Hampir seluruh bangunan yang terdapat pada sini pada desain melengkung. “There is no straightlines in nature.” Jelas Marny, keliru satu senior architect PT. Bambu Bambu yg terlibat pada proyek Green School ini.

    Sementara John hardy percaya bentuk kotak & garis yg terlalu tegas akan mengurangi kreativitas yg diharapkan anak-anak selama belajar. Maka hasilnya adalah kelas-kelas berbentuk busur dengan bambu-bambu yg diikat secara melengkung sebagai penopang primer bangunan. Batang-batang bambu itu lalu disambung menggunakan rangkaian bambu lainnya menciptakan atap dengan ilalang di atasnya.

    Hampir seluruh elemen bangunan Green School memakai material bambu, di antaranya pada: tiang, rangk atap, tangga, lantai atas dan lainnya. Bambu-bambu itu disambung menggunakan sistem pin & baut. Tetapi nir hanya konstruksi bangunan saja yang memakai bambu. Railing atau pagar pembatas, sampai furniture seperti kursi & meja belajar pun dibuat dari bambu.

    Bambu, merupakan tanamanyg mudah tumbuh. Hanya pada jangka 4-lima tahun ketinggian bambu sanggup mencapai 18 meter, sementara pohon lain membutuhkan saat 25 tahun. Dengan demikian, termasuk material yg ramah lingkungan lantaran mudah & cepat diperbaharui.

    Kelas-kelas di Heart of School dibuat menjadi bangunan dengan sistem yg terbuka. Artinya, angin dan cahaya mentaridapat masuk menggunakan aporisma ke pada bangunan. Itu masih ditambah dengan sebuah skylight yg melingkar pada zenit atap, menjadi sumber pencahayaan alami bagi ruang-ruang di bawahnya. Fasilitas lain di sekolah ini merupakan Green Waroeng, yaitu kantin yg menjual kuliner output olahan kebun di lebih kurang Green School.

Green School memang sebuah sekolah menggunakan konsep pulang ke alam. Tetapi upaya buat bersahabat dengan lingkungan tidak hanya diterapkan pada konteks fisika bangunan, pilihan material atau membiarkan pepohonan di sekitarnya tumbuh. Utilitas bangunan seperti listrik pun, direncanakan menggunakan sistem tersendiri, yaitu turbin yg digerakkan sang air, yg dinamakan Vortex. Sedangkan penyediaan air higienis berasal menurut sungai yg berada kurang lebih 40 m pada bawah tanah, masih pada dalam kawasan.

Sistem pembuangan air dari kamar mandi juga dibentuk tidak selaras . Setiap toilet, baik buat laki-lakijuga perempuan, memiliki 2 sistem. Buang air kecil kloset, ditampung dan digunakan buat menyiram bambu buat dipakai sebagai pupuk tanamannantinya.

Kawasan yang dirancang nir mencemari lingkungan ini diharapkan akan membuat anak-anak yang selalu berfikir ‘green’ karena terbiasa menggunakan lingkungan yg asri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *